Home / News / Korban Musala Ponpes Sidoarjo Terus Bertambah

Korban Musala Ponpes Sidoarjo Terus Bertambah

Korban Musala Ponpes Sidoarjo Terus Bertambah

Senin, 6 Oktober 2025-Korban musala Ponpes Sidoarjo terus bertambah, jumlah korban meninggal dunia akibat ambruknya musala tiga lantai di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, telah mencapai 54 orang. Proses evakuasi yang telah memasuki hari kedelapan masih berlangsung dengan melibatkan tim SAR gabungan dari Basarnas, BNPB, TNI, Polri, serta relawan. Meskipun upaya pencarian terus dilakukan, 13 orang masih dinyatakan hilang dan belum ditemukan.

Insiden ini bermula pada Senin, 29 September 2025, ketika musala yang sedang dalam proses perluasan tanpa izin tersebut ambruk saat para santri tengah melaksanakan salat Ashar. Sebagian besar korban adalah santri laki-laki, sementara santri perempuan yang berada di bagian lain musala berhasil menyelamatkan diri. Bangunan yang tidak memenuhi standar konstruksi dan tidak memiliki izin resmi menjadi penyebab utama keruntuhan.

Korban Musala Ponpes Sidoarjo Terus Bertambah

Pada Senin, 29 September 2025, sebuah musala tiga lantai di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, ambruk saat para santri tengah melaksanakan salat Ashar. Bangunan yang sedang dalam proses perluasan tanpa izin itu runtuh akibat struktur yang tidak mampu menahan beban tambahan. Sebagian besar korban adalah santri laki-laki yang berada di lantai utama musala, sementara santri perempuan yang berada di bagian lain berhasil menyelamatkan diri. Peristiwa ini menimbulkan kepanikan dan suasana duka yang mendalam di lingkungan pesantren maupun masyarakat sekitar.

Proses Evakuasi dan Perkembangan Korban

Hingga Senin, 6 Oktober 2025, proses evakuasi telah memasuki hari ketujuh. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mencatat 52 korban meninggal dunia, 104 santri selamat, dan tujuh orang masih dinyatakan hilang. Tim SAR gabungan dari Basarnas, BNPB, TNI, Polri, serta relawan bekerja sepanjang hari untuk mengevakuasi korban yang tertimbun puing bangunan. Evakuasi terkendala oleh kondisi reruntuhan yang tidak stabil, sehingga setiap proses penyelamatan dilakukan dengan sangat hati-hati. Selain itu, beberapa korban ditemukan dalam kondisi kritis sehingga harus segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Masyarakat sekitar turut membantu proses evakuasi dengan memberikan informasi tentang lokasi terakhir para santri yang hilang, sementara petugas medis siaga untuk memberikan pertolongan pertama bagi korban yang selamat. Pemerintah daerah dan pusat telah menyalurkan bantuan darurat, termasuk sembako, obat-obatan, peralatan medis, serta dukungan logistik bagi tim SAR. Upaya ini menjadi bukti kepedulian terhadap keselamatan dan kesejahteraan para santri serta keluarga yang terdampak.

Penyebab Ambruknya Bangunan

Pengasuh Ponpes Al Khoziny menjelaskan bahwa musala runtuh akibat perluasan bangunan yang tidak memiliki izin resmi serta tidak sesuai dengan standar konstruksi. Fondasi yang kurang kuat dan material bangunan yang tidak memadai menjadi penyebab utama keruntuhan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai pengawasan pembangunan fasilitas pendidikan agama, khususnya pesantren yang tidak terdaftar secara resmi. Ahli konstruksi menyatakan bahwa renovasi atau pembangunan tambahan harus melalui prosedur teknis yang jelas agar bangunan mampu menahan beban dan memenuhi standar keselamatan.

Dampak Sosial dan Psikologis

Tragedi ini mengguncang masyarakat Sidoarjo dan sekitarnya. Keluarga korban, santri, serta warga sekitar merasakan duka yang mendalam. Selain kehilangan orang terkasih, mereka menghadapi trauma psikologis akibat kejadian mendadak ini. Beberapa psikolog dan relawan menekankan pentingnya pendampingan psikologis bagi korban selamat, keluarga korban, serta warga yang menyaksikan peristiwa tragis ini.

Di sisi lain, insiden ini memicu perdebatan publik mengenai standar keselamatan dan pengawasan pembangunan fasilitas pendidikan di Indonesia, khususnya pesantren. Pemerintah dan pihak berwenang diharapkan dapat meninjau kembali regulasi pembangunan pesantren agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

Opini dan Pandangan Lebih Luas

Tragedi musala Ponpes Sidoarjo menjadi peringatan penting bagi seluruh pihak terkait, baik pengelola pesantren, pemerintah daerah, maupun masyarakat umum, untuk selalu mengutamakan keselamatan dalam pembangunan fasilitas pendidikan. Upaya preventif dan pengawasan ketat terhadap pembangunan harus menjadi prioritas, mengingat banyaknya pesantren di Indonesia yang terus berkembang. Selain itu, pembinaan dan pendidikan bagi santri harus selalu diimbangi dengan fasilitas yang aman dan memenuhi standar konstruksi.

Kesimpulan

Ambruknya musala Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo menimbulkan duka mendalam, menelan puluhan korban jiwa, dan mengingatkan pentingnya pengawasan pembangunan fasilitas pendidikan agama. Dengan dukungan masyarakat, tim SAR, serta pemerintah, proses evakuasi dan pemulihan terus berjalan. Pihak berwenang diharapkan dapat mengungkap penyebab pasti kejadian ini secara transparan dan mengambil langkah preventif agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

💬 LIVECHAT